Menu

Mode Gelap
Hadir di Lirboyo, Gus Yahya: Islah PBNU Telah Tercapai Disini Rajab, Saatnya “Mremo” Amal Kebaikan di Bulan yang Mulia Bahtsul Masail Tingkat Mahasiswa Se-Jawa Tengah digelar di UNISNU, Soroti Kontroversi Terkait Hukum dan Politik Aliansi Santri Jepara Desak Komdigi dan KPI Cabut Izin Trans7, Buntut Tayangan yang Lecehkan Pesantren Visiting Lecturer di Negeri Tirai Bambu, Aprilia Wakili UNISNU Jepara Kenalkan Wisata Bahari Indonesia

Kabar · 31 Jan 2018 14:43 WIB ·

Prof Fatah Syukur: Saya Bangga Jadi Lulusan Madrasah


 Prof Fatah Syukur: Saya Bangga Jadi Lulusan Madrasah Perbesar

Jepara – Guru besar ilmu manajemen pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag yang menjadi narasumber Seminar dan Bedah Buku “Madrasah Menatap Masa Depan, Mencari Format Sekolah Unggul” memantik guru madrasah se-Kabupaten Jepara agar bangga dengan madrasah.
Motivasi itu Prof Fatah uraikan dalam kegiatan yang dihelat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Jepara yang bertempat di Aula Kampus Undip desa Teluk Awur kecamatan Tahunan kabupaten Jepara, Selasa (30/1/2018) kemarin.
Madrasah jelasnya milik kita. Madrasah juga sebutnya adalah diri kita. “Saya bangga menjadi lulusan madrasah,” akunya seraya disambut tepuk tangan ratusan peserta.
Pandangan madrasah menjadi “kelas dua” memang terus berlaku dari dulu hingga sekarang. Sehingga waktu itu banyak tetangga yang mencibir. “Sekolah arab (madrasah, red.) mau jadi apa?” begitu cibiran tetangga yang dilontarkan kepadanya.
Meski cibiran tak kunjung usai tetapi lelaki kelahiran Kudus, 12 Desember 1968 itu kini telah membuktikan. Dalam kurun tahun 1970 – 2016 satu-satunya lulusan Doktor dari Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo (dulu, IAIN) adalah dirinya yang merupakan lulusan dari sekolah arab (madrasah, red.).
Dalam kesempatan itu dirinya menegaskan meski madrasah dikatakan pinggiran, no problem, tidak masalah, kata dia. “Madrasah bisa kalau kita bisa,” tandasnya.
Madrasah itu Menarik
Dalam pandangannya madrasah adalah lembaga pendidikan Islam yang menarik. Karena dilahirkan dari pesantren sekitar abad 18 maka madrasah, jelasnya jangan meninggalkan ruh pesantren.
“Madrasah perlu melakukan terobosan lebih jangan hanya sesuai dengan regulasi sekolah saja,” paparnya.
Kemenag Jawa Tengah tahun 2014 – 2015 merilis data madrasah di Jawa tengah sebanyak 10.740. 10.441 atau 95.21 % adalah swasta dan 229 madrasah 4.79 % adalah sekolah negeri.
Dari data itu setiap tahun kata dia selalu ada penambahan madrasah baru sekitar 100 pemohon izin. Tetapi ada minusnya akreditasi C 12.36 % setara 1.327 dan belum terakreditasi 12.36 % sebanyak 2.036. Adapun yang terakreditasi A 1.796 16.72 % dan B sejumlah 5.581 atau 51.96 %.
Masih menurutnya dari data tersebut madrasah harus punya terobosan baru yakni bukan hanya investasi fisik tetapi juga invest Sumber Daya Manusia (SDM).
Hadir juga dalam kesempatan itu Drs. M. Asyhari, S.H. M.SI (penulis buku), KH Hayatun Abdullah Hadziq (Ketua PCNU Jepara) dan H Fatkhul Huda (Ketua LP Maarif Jepara). (sm)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Glory Casino Live Casino Tips for an Enjoyable, Low-Stress Play Experience

28 Desember 2025 - 20:25 WIB

Exploring Glory Casino Mobile Slots Gameplay Experience: Tips and Features

28 Desember 2025 - 00:17 WIB

Glory Casino Mobile Betting Experience Explained: Benefits and User Tips

27 Desember 2025 - 22:00 WIB

Mostbet AZ üzərindən idman mərci yerləşdirmə qaydası və strategiyaları

26 Desember 2025 - 12:58 WIB

Master Casino Glory Demo Games for Learning Basics Effectively and Quickly

26 Desember 2025 - 12:14 WIB

Hadir di Lirboyo, Gus Yahya: Islah PBNU Telah Tercapai Disini

25 Desember 2025 - 19:49 WIB

Trending di Kabar