Menu

Mode Gelap
R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya

Budaya · 22 Apr 2026 08:15 WIB ·

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan


 R.A Kartini Perbesar

R.A Kartini

Oleh : H. Hisyam Zamroni

Nama Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar usang. Ia bukan sekadar simbol emansipasi perempuan, tetapi juga seorang pemikir yang bergulat dengan pertanyaan paling mendasar: bagaimana manusia bisa merdeka—dari tradisi yang membelenggu, dari ketidaktahuan, dan bahkan dari pemahaman agama yang sempit?

Di tengah arus modernitas yang mulai memasuki Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, Kartini berdiri di persimpangan. Ia menyaksikan benturan antara tradisi Jawa feodal, kolonialisme Barat, dan munculnya rasionalitas modern. Namun, yang membuatnya relevan hingga hari ini adalah bagaimana gagasannya justru melampaui modernitas itu sendiri—mendekati apa yang kini kita sebut sebagai sensibilitas postmodern: kritis, reflektif, dan membongkar klaim kebenaran tunggal.

Kartini dan Kegelisahan Modernitas

Modernitas membawa janji: pendidikan, rasionalitas, dan kemajuan. Namun bagi Kartini, modernitas tidak otomatis membebaskan. Ia melihat bahwa perempuan pribumi tetap terkungkung, bahkan ketika wacana “kemajuan” digaungkan oleh kolonialisme.

Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami ingin menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidup, melainkan karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar bagi kaum perempuan.”¹

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung kritik mendalam. Modernitas Barat yang datang melalui kolonialisme tidak otomatis menghadirkan keadilan. Pendidikan menjadi kunci, tetapi bukan sekadar untuk “menyamai” laki-laki—melainkan untuk membangun kesadaran.

Kartini memahami bahwa modernitas tanpa refleksi hanya akan melahirkan bentuk baru penindasan.

Agama dalam Pergulatan Kartini

Salah satu aspek paling menyentuh dari pemikiran Kartini adalah pergulatannya dengan agama—khususnya Islam yang ia warisi secara kultural, tetapi tidak sepenuhnya ia pahami secara rasional.

Kartini pernah menulis dengan jujur:

“Kami tidak mengerti agama kami… Kami hanya disuruh menghafal ayat-ayat, tanpa tahu artinya.”²

Ini bukan penolakan terhadap agama, melainkan kritik terhadap cara agama diajarkan. Kartini merindukan agama yang hidup—yang memberi makna, bukan sekadar ritual kosong.

Di sinilah letak kedalaman spiritual Kartini: ia tidak meninggalkan agama, tetapi ingin membebaskannya dari kekakuan.

Menuju Spirit Pembebasan

Kartini perlahan menemukan bahwa agama seharusnya menjadi sumber cahaya, bukan kegelapan. Ia terinspirasi oleh pemikiran progresif yang ia baca dari buku-buku Barat, tetapi ia tidak serta-merta menjadi “Barat”. Ia justru mencari sintesis.

Dalam suratnya yang lain, Kartini menulis:

“Agama itu harus membawa kita kepada kebaikan, kepada cinta kasih, kepada kemanusiaan.”³

Kalimat ini terasa sangat “postmodern” dalam arti terbaik: Kartini menolak monopoli tafsir. Ia tidak menerima begitu saja otoritas tradisional, tetapi juga tidak jatuh ke nihilisme. Ia memilih jalan refleksi.

Agama, bagi Kartini, adalah spirit untuk hidup maju—bukan penghalang kemajuan.

Kartini dan Bayangan Postmodernitas

Jika modernitas menekankan rasionalitas dan kemajuan linear, postmodernitas mengajarkan kita untuk curiga terhadap narasi besar (grand narratives). Kartini, jauh sebelum istilah itu populer, sudah menunjukkan sikap serupa.

Kartini mempertanyakan:

  1. Tradisi yang menindas perempuan
  2. Kolonialisme yang mengklaim membawa “peradaban”
  3. Pemahaman agama yang membatasi kebebasan berpikir

Kartini tidak menelan mentah-mentah apa pun. Ia meragukan, tetapi juga berharap. Ia mengkritik, tetapi tetap mencari makna.

Dalam konteks ini, Kartini bukan hanya tokoh modern—ia adalah jembatan menuju cara berpikir yang lebih reflektif dan humanis.

Agama sebagai Energi Emansipasi

Yang paling menyentuh adalah bagaimana Kartini tidak pernah benar-benar kehilangan iman—ia hanya menolak iman yang membelenggu.

Kartini menginginkan agama yang membebaskan perempuan dari ketidakadilan, mendorong pendidikan dan pencerahan dan menghidupkan nilai kasih sayang

Di sinilah kita bisa membaca ulang Kartini hari ini. Agama bukan sekadar identitas atau aturan, tetapi energi moral untuk membangun dunia yang lebih adil.

Dalam dunia yang sering terpolarisasi antara “tradisional vs modern” atau “agama vs kemajuan,” Kartini menawarkan jalan ketiga: spiritualitas yang membebaskan.

Relevansi Hari Ini

Lebih dari satu abad setelah kematiannya, pertanyaan Kartini masih hidup:

  1. Apakah pendidikan benar-benar membebaskan?
  2. Apakah agama menjadi sumber cinta atau justru konflik?
  3. Apakah kita berani berpikir sendiri?

Kartini mengajarkan bahwa kemajuan bukan hanya soal teknologi atau ekonomi, tetapi tentang keberanian untuk mempertanyakan—dan sekaligus mencintai kemanusiaan.

Penutup: Kartini yang Tak Pernah Selesai

Kartini tidak meninggalkan sistem filsafat yang lengkap. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih berharga: kegelisahan yang jujur, dan justru di situlah kekuatannya.

Kartini adalah suara yang berkata bahwa Tradisi bisa dikritik tanpa harus dibenci, Agama bisa dimaknai ulang tanpa harus ditinggalkan dan Kemajuan harus berpihak pada kemanusiaan

Kartini mengajarkan kita bahwa menjadi manusia merdeka bukan berarti lepas dari nilai, tetapi menemukan makna yang lebih dalam di baliknya.

Dalam dunia yang terus berubah, Kartini tetap relevan—bukan sebagai ikon yang dibekukan, tetapi sebagai percikan api yang terus mengajak kita berpikir, merasakan, dan membebaskan.

Catatan Kaki :

  1. R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terj. Armijn Pane (Jakarta: Balai Pustaka, 1960), hlm. 25.
  2. Ibid., hlm. 45.
  3. Ibid., hlm. 78.
  4. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Jakarta: Lentera Dipantara, 2003).
  5. Jean Gelman Taylor, Kartini: The Complete Writings 1898–1904 (Athens: Ohio University Press, 2014).

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural

21 April 2026 - 15:51 WIB

H. Hisyam Zamroni

R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya

19 April 2026 - 18:37 WIB

Bahtsul Masail Tingkat Jateng Segera Digelar, Ini Materi Asilah yang akan Dibahas

18 April 2026 - 10:05 WIB

Panitia Bahtsul Masail PWNU Jateng dan PCNU Jepara.

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

14 Maret 2026 - 07:00 WIB

Iktikaf
Trending di Hujjah Aswaja