Menu

Mode Gelap
Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa Seni Menang di Tengah Kepungan

Hujjah Aswaja · 24 Okt 2022 04:07 WIB ·

Tugas Santri Sebagai Penjaga Maqoshid Syar’i


 Tugas Santri Sebagai Penjaga Maqoshid Syar’i Perbesar

Oleh : KH. Muhammad Roshif Arwani – Mangunan
Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Jepara

nujepara.or.id – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) adalah milik semua warga Indonesia, milik semua anak bangsa. Akan tetapi pada kenyataannya yang peduli dengan adanya HSN tersebut hanya warga Indonesia dari ormas NU, lebih-lebih kaum Santri.

Hal ini tidak lain karna NU (para santri) betul-betul bisa memahami makna sebuah perjuangan yang telah dilakukan oleh generasi pendahulunya.

HSN adalah sebuah penghargaan dari pemerintah kepada kaum santri yang pada tanggal 15 oktober 2015 dibacakan langsung Bapak presiden RI Bapak Ir Joko Widodo. Atas dedikasi para santri terhadap negara dalam meraih kemerdekaan, menjaga semangat kemerdekaan, serta mengisi kemerdekaan hingg sekarang.

Dan untuk mempertahankan serta menjaga Indonesia dari hal-hal yang bisa merusak kewibawaan sebuah Negara.

HSN pada tahun ini mengambil tema “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusian”, tema ini hakikatnya jati diri seorang santri, santri yang bisa mengamalkan Maqoshid Syar’i, dan santri yang bisa menjaga dasar pokok kemanusian yaitu santri harus bisa berdaya menjaga martabat agama (حفظ الدين), menjaga martabat jiwa ( حفظ النفس) menjaga martabat harta ( حفظ المال) menjaga martabat nasab ( حفظ النسب) menjaga martabat aqal ( حفظ العقل) dan menjaga martabat harga diri ( حفظ العرض ) sesuai didalam kitab JAUHAROH ATTAUHID

وحفظ دين ثم نفس مال نسب # ومثلها عقل وعرض قد وجب
Jagalah agama jiwa harta nasab #
Akal dan harga diri (wajib terjawab)

Peringatan HSN selain mensyukuri ni’mat yang Allah SWT berikan pada kita, juga untuk menumbuhkan jiwa-jiwa santri ditengah masyarakat jangan sampai padam. Menumbuhkan generasi yang cinta ilmu, generasi yang cinta mondok dan jiwa jiwa yang peduli dengan keberlangsungan pondok pesantren.

Karena perjuangan zaman sekarang ini adalah berjuang dalam menghidupkan lembaga pendidikan, terlebih lembaga pendidikan pondok pesantren, sebab pondok pesantren merupakan pilar pokok keberlangsungan Negara Indonesia, benteng akhir mencerdaskan akal dan jiwa anak bangsa dan dari pesantren lah banyak mencetak tokoh-tokoh penjaga negara, penjaga agama, dan menjaga martabat kemanusian.

Selamat hari santri Nasional 22 oktober 2022, “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusian”.

Artikel ini telah dibaca 165 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

14 Maret 2026 - 07:00 WIB

Iktikaf

Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

12 Maret 2026 - 14:45 WIB

Teknik Rahasia Menepi ala Nabi Musa

Seni Menang di Tengah Kepungan

12 Maret 2026 - 14:34 WIB

Seni Menang di Tengah Kepungan

Iedul Fitri dan Manifesto Perdamaian Global: Transformasi Kasih Sayang Menjadi Aksi Universal

12 Maret 2026 - 12:22 WIB

Ilustrasi idulfitri

Iedul Fitri Sebagai Moment Untuk Mendorong Terwujudnya Perdamaian Global

12 Maret 2026 - 09:36 WIB

Ilustrasi khutbah Idulfitri
Trending di Hujjah Aswaja