Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Esai · 15 Feb 2023 06:49 WIB ·

Warisan Besar Guru Para Pecinta Rasul


 Warisan Besar Guru Para Pecinta Rasul Perbesar

Oleh : Khamdan
Pecinta Habib dan Kader Muda NU Nalumsari

nujepara.or.id – Habib Dullah, demikian khalayak umum mengenal serta memanggil. Sosok dengan penuh kesahajaan yang cenderung menyembunyikan identitas kehabiban, telah meninggalkan para pecintanya.

Selepas waktu maghrib dengan sakit yang dialami dalam perawatan di RS Sultan Agung Semarang, Habib menghadap pada Sang Kholiq pada 14 Februari atau bertepatan 23 Rajab 1444 H.

Habib meninggalkan warisan besar tentang perjuangan kecintaan pada Rasulullah dan pengabdian merawat umat melalui jam’iyah Nahdlatul Ulama. Sebagai keturunan Rasulullah dari marga farm Al Hinduan, Bib Dullah setidaknya memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat.

Kediaman yang berada di seberang monumen ari-ari R.A. Kartini atau Kecamatan Mayong, hilir mudik tamu sering berdatangan. Belum lagi sejumlah undangan majlis ta’lim dan pengajian di beberapa wilayah yang selalu dihadiri atas dasar khidmat merawat umat. Mungkin, itu sebagai ciri khas farm al Hinduan yang sering dikaitkan pada datuknya di India yang kuat seperti pedang baja.

Habib Dullah berasal dari Ngroto Grobogan, dan menjadi menantu dari Habib Ali Shihab Mayong. Mafhum bagi masyarakat Mayong bahwa Habib Ali memiliki banyak karomah dan menjadi salah satu guru dari Maulana Habib Luthfi bin Ali Yahya.

Baik Habib Ali maupun Habib Dullah, memegang sanad syarah kitab Burdah yang ditulis tangan oleh Mbah Sholeh Darat. Dalam beberapa cerita, ada tiga murid dari Mbah Sholeh yang diberi syarah bertulis tangan tentang pemaknaan terhadap shalawat Burdah. Dan salah satu penerima itu adalah kakek dari istri Bib Dullah, atau ayah dari Habib Ali.

Tak heran jika majlis-majlis shalawat yang berkembang dalam jejaring murid dengan Habib Ali dan Habib Dullah adalah pembacaan shalawat Burdah. Fenomena ini pernah mengalami puncaknya saat awal-awal pengembangan Majelis Hubbur Rosul yang didirikan pada awal 2000-an.

Pergantian rezim kekuasaan yang diiringi krisis moneter serta kekacauan sosial di mana-mana, dijawab oleh komunitas pecinta Rasul dengan mengampanyekan shalawat. Pada titik inilah peran majelis Hubbur Rosul seolah menjadi penyiram kegersangan rohani masyarakat di Jepara.

Peran sebagai pelayan masyarakat (khodimul ummah) sangat melekat. Bangunan yang menyerupai aula terbuka di belakang rumah beserta pepohonan besar sebagai pengayom, adalah tempat yang umum untuk menerima tamu.

Bangunan terpisah dari kediaman keluarga itu seolah menegaskan bahwa posisi Bib Dullah terbagi atas dua. Pertama, ada porsi khusus berkaitan dengan urusan domestik keluarga yang tidak setiap orang luar boleh mengetahui. Kedua, ada porsi berkaitan sebagai pengasuh, pengayom, bahkan sekadar menerima para pecinta yang merindukan wajah teduhnya.

Bagi kebanyakan orang yang belum mengenal, sosok Bib Dullah tak ubahnya seperti masyarakat umum. Wajah hampir tidak menunjukkan ciri khas etnis Arab seperti para habib lainnya. Begitu juga penampakan busana dan lainnya, tak ada batas sebagai warga asli Indonesia yang lebih njawani.

Hal demikian setidaknya ingin memberikan kesan bahwa pelajaran terbaik adalah keteladanan. Teladan memosisikan diri sebagaimana masyarakat pada umumnya, namun tetap memperlihatkan kharisma manakala sudah masanya harus diperankan.

Sebagai khodimul ummah, Bib Dullah tidak hanya sekadar menerima tamu tetapi juga bertamu membangun silaturrahim. Langkah yang umum dilakukan oleh para penggerak dan pengader dalam sebuah organisasi. Beliau merupakan organisatoris yang lama berkecimpung di Nahdlatul Ulama.

Lama menduduki posisi sebagai jajaran Syuriah di MWCNU Mayong, sampai pada akhir hayat masih dalam khidmah sebagai Mustasyar PCNU Jepara. Rasanya, inilah warisan besar yang mesti dirawat dan tetap dijaga yaitu khidmat pada umat melalui NU dan senantiasa meningkatkan rasa cinta pada Rasul melalui shalawat.

Artikel ini telah dibaca 92 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Pembukaan Bahtsul Masail PWNU Jateng, Rais Syuriah: Agendakan Rutin

20 April 2026 - 15:02 WIB

Bahtsul Masail Jepara: Hukum Perda Miras dan Hiburan Malam, serta Kritik Matan Hadits yang Berselisih Fakta

15 April 2026 - 12:23 WIB

Trending di Bahtsul Masail