Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Hujjah Aswaja · 19 Agu 2022 00:35 WIB ·

Geliat Wisata Jepara & Karimunjawa, NU Mau Apa?


 Geliat Wisata Jepara & Karimunjawa, NU Mau Apa? Perbesar

Oleh Dr. Muh.Khamdan *

Tahun 2022, sudah seharusnya menjadi tonggak tahun kunjungan wisata Jepara ditetapkan. Kondisi pandemi covid-19 yang sudah menurun drastis dengan kesiapan masyarakat menghadapi tatanan baru tentu menjadi peluang. Keberadaan sejumlah pabrik di beberapa kawasan pengembangan industri misalnya, tentu membuka pangsa pasar wisata. Akan tetapi, ketidaksiapan di antara pemangku kebijakan seolah menjadikan potensi wisata yang begitu besar justru terkesan tidak berkembang.

Salah satu destinasi wisata di Jepara yang saat ini gencar dipromosikan adalah Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa sebagai basis penduduk muslim dan berafiliasi pada NU, perlu mendapatkan dukungan dari seluruh warga nahdliyin. Pengembangan dalam perspektif NU dapat dilakukan dengan mendeklarasikan sebagai pusat wisata halal di Jepara. Wisata sesungguhnya menjadi bagian dari kehidupan kaum muslim, terutama warga NU. Oleh karenanya, sudah sepatutnya juga tokoh-tokoh NU mensyiarkan wisata halal dan melakukan pengembangan di sejumlah daerah potensial sektor wisata.

Di sisi lain, Pemkab Jepara juga memberlakukan wisata gratis di sejumlah obyek wisata yang dikelola pemerintah daerah. Muncul anggapan progam ini diterapkan karena wisata di Jepara kurang bergerak. Pandemi covid-19 bahkan oleh sebagian kalangan dianggap sebagai “penolong”, karena dijadikan alasan turun drastisnya pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Pada 2021 kemarin misalnya, target pendapatan sekitar 4,1 milyar mesti direvisi hanya menjadi 998 juta.

Harus diakui bahwa ketika tagline wisata gratis diumumkan oleh pemimpin daerah, akan disangka bahwa pendapatan daerah dari aspek wisata berarti turun. Padahal arti wisata gratis adalah tidak adanya pembebanan ongkos atau retribusi langsung atas obyek wisatanya. Untuk menikmati pantai dan laut, maka masyarakat tidak harus dibebankan tiket masuk obyeknya. Pendapatan daerah dapat digantikan melalui beban parkir kendaraan dan infrastruktur pendukung lainnya. Pengembangan wisata sesungguhnya tidak hanya mengacu pada obyek wisata itu sendiri.

Perlu saling difahami bahwa strategi pengembangan wisata meliputi banyak hal. Bisa dilakukan mulai dari pengembangan produk wisata, pengembangan tata ruang dan daya dukung lingkungan, pengembangan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, termasuk pengembangan investasi. Dalam kaitan tersebut, mempromosikan kepulauan Karimunjawa layak menjadi pemikiran yang diintensifkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Sebagian besar masyarakat Jepara tentu menyadari bahwa destinasi wisata yang berhasil memberi setoran pemasukan besar pada PAD adalah dari sektor bahari. Obyek wisata Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini adalah ikon populer. Sayangnya, Pemkab Jepara seolah hanya terkonsentrasi pada pengembangan dua destinasi tersebut, sehingga tidak optimal menggerakkan serta berinovasi pada obyek wisata lain.

Karimunjawa sebagai ikon promosi wisata sekaligus basis pengembangan bahari Jepara, tentu akan mampu mengembangkan aspek pariwisata secara meluas. Wisata bahari di Jepara tidak hanya bertumpu pada Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini, yang sampai saat ini belum jelas arah pengembangan untuk jangka panjang. Penyelesaian proyek Akuarium Kura-Kura Raksasa serta sejumlah wahana permainan air setidaknya telah menemui ujung klimaks, sehingga mengesankan kebosanan bagi pengunjung. Wisata adalah strategi memenuhi rasa senang dan tenang akan keunikan, kekhasan, dan keaslian.

Selama ini, bangunan Kura-kura raksasa selalu dipromosikan sebagai entry point pariwisata Jepara. Terlebih untuk setiap kegiatan daerah maupun luar daerah, bangunan kepala Kura-kura seolah dijadikan simbol baru bagi identitas Jepara dengan menyisipkannya di dalam pamflet, brosur, atau background kegiatan. Padahal langkah demikian bisa menjadi blunder bagi pariwisata bahari Jepara jika tidak diiringi roadmap pengembangan yang jelas akan inovasi-inovasi wisata itu sendiri.

Untuk itulah perlu dibuat terobosan baru promosi pariwisata yang gencar sekaligus kemampuan kerjasama antarinstansi pemerintahan di semua level untuk mendukung kampanye Visit Jepara. Perlu dibuatkan jalur khusus pariwisata terutama bagi wisatawan dari luar Jepara yang terhindar kemacetan sekaligus kemudahan akses transportasi. Kejutan-kejutan kegiatan pariwisata juga perlu diberikan disertai pembuatan souvenir khas semacam sesuatu yang bertuliskan ”Visit Jepara, Living Karimunjawa”.

Pengembangan pariwisata bahari atau marine ecotourism yang merujuk pada UU Nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, disebutkan adanya kegiatan pariwisata bahari yang meliputi permukaan air, kolam, sampai pada pengelolaan dasar laut.

Sebenarnya tuntutan pembangunan potensi kelautan dapat dikompromikan antara sektor produksi hulu sampai pada hilir, setidaknya terfokuskan pada kualitas pariwisata yang dibangun. Sebagai contoh, dapat dikembangkan adanya pariwisata yang mengedepankan integrasi hidup wisatawan dengan kehidupan asli penduduk setempat. Langkah ini pada akhirnya akan membentuk banyak objek wisata yang murah namun memberikan dampak keuntungan yang tinggi berupa kampung wisata (home stay).

Demikian juga dapat dibuat model industri ikan modern yang diharuskan untuk menjadi sentral produksi pengolahan hasil tangkapan nelayan tradisional, mulai dari sortir sampai pengemasan untuk ekspor. Guna menjaga stabilitas pasokan ikan di laut maka nelayan mesti diberdayakan dengan sistem budidaya, seperti udang, bandeng, dan rumput laut. Demikian juga pabrik es dan pabrik penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) yang layak minum mesti didahulukan daripada industri lain, karena menjadi kebutuhan inti bagi nelayan dalam mendukung produktivitasnya.

Termasuk gagasan wisata yang semakin digemari masyarakat wisatawan adalah pemberdayaan olahraga bahari yang telah menjadi program pemberdayaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sebagaimana sport fishing yang jelas-jelas telah dikampanyekan sebagai industri kreatif di bidang olahraga bahari. Dalam keterikatan aspek olahraga ini, sport fishing yang identik dengan memancing akan mampu mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan Karimunjawa secara khusus, karena terkait pada penyediaan perahu atau kapal sewaan sekaligus pemandu daerah pembiakan ikan, sehingga membuka lapangan kerja baru.

Dengan hal-hal tersebut, maka terdapat tiga potensi pembangunan bahari yang nantinya dapat dirancang secara berkesinambungan sekaligus dapat dipromosikan untuk mengenalkan Karimunjawa. Pertama, sumber daya dapat pulih (renewable resource) yang terkait flora dan fauna serta unsur pendukung sebagaimana potensi pulau-pulau yang beragam. Kedua, sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resource) yang terdiri atas unsur-unsur bahan mineral, seperti pasir putih. Ketiga, jasa lingkungan (environmental services) yang mengedepankan kreativitas pengelolaan sehingga tidak berhenti pada konsumsi “mentah” dari laut.

Saat ini, pariwisata menjadi salah satu elemen penting di Jepara. Dan Jepara mayoritas adalah kalangan nahdliyin. Lalu NU mau apa?

Tahun 2022, sudah seharusnya menjadi tonggak tahun kunjungan wisata Jepara ditetapkan. Kondisi pandemi covid-19 yang sudah menurun drastis dengan kesiapan masyarakat menghadapi tatanan baru tentu menjadi peluang. Keberadaan sejumlah pabrik di beberapa kawasan pengembangan industri misalnya, tentu membuka pangsa pasar wisata. Akan tetapi, ketidaksiapan di antara pemangku kebijakan seolah menjadikan potensi wisata yang begitu besar justru terkesan tidak berkembang.

Salah satu destinasi wisata di Jepara yang saat ini gencar dipromosikan adalah Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa sebagai basis penduduk muslim dan berafiliasi pada NU, perlu mendapatkan dukungan dari seluruh warga nahdliyin. Pengembangan dalam perspektif NU dapat dilakukan dengan mendeklarasikan sebagai pusat wisata halal di Jepara. Wisata sesungguhnya menjadi bagian dari kehidupan kaum muslim, terutama warga NU. Oleh karenanya, sudah sepatutnya juga tokoh-tokoh NU mensyiarkan wisata halal dan melakukan pengembangan di sejumlah daerah potensial sektor wisata.

Di sisi lain, Pemkab Jepara juga memberlakukan wisata gratis di sejumlah obyek wisata yang dikelola pemerintah daerah. Muncul anggapan progam ini diterapkan karena wisata di Jepara kurang bergerak. Pandemi covid-19 bahkan oleh sebagian kalangan dianggap sebagai “penolong”, karena dijadikan alasan turun drastisnya pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Pada 2021 kemarin misalnya, target pendapatan sekitar Rp4,1 miliar mesti direvisi hanya menjadi Rp998 juta.

Harus diakui bahwa ketika tagline wisata gratis diumumkan oleh pemimpin daerah, akan disangka bahwa pendapatan daerah dari aspek wisata berarti turun. Padahal arti wisata gratis adalah tidak adanya pembebanan ongkos atau retribusi langsung atas obyek wisatanya. Untuk menikmati pantai dan laut, maka masyarakat tidak harus dibebankan tiket masuk obyeknya. Pendapatan daerah dapat digantikan melalui beban parkir kendaraan dan infrastruktur pendukung lainnya. Pengembangan wisata sesungguhnya tidak hanya mengacu pada obyek wisata itu sendiri.

Perlu saling difahami bahwa strategi pengembangan wisata meliputi banyak hal. Bisa dilakukan mulai dari pengembangan produk wisata, pengembangan tata ruang dan daya dukung lingkungan, pengembangan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, termasuk pengembangan investasi. Dalam kaitan tersebut, mempromosikan kepulauan Karimunjawa layak menjadi pemikiran yang diintensifkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Sebagian besar masyarakat Jepara tentu menyadari bahwa destinasi wisata yang berhasil memberi setoran pemasukan besar pada PAD adalah dari sektor bahari. Obyek wisata Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini adalah ikon populer. Sayangnya, Pemkab Jepara seolah hanya terkonsentrasi pada pengembangan dua destinasi tersebut, sehingga tidak optimal menggerakkan serta berinovasi pada obyek wisata lain.

Karimunjawa sebagai ikon promosi wisata sekaligus basis pengembangan bahari Jepara, tentu akan mampu mengembangkan aspek pariwisata secara meluas. Wisata bahari di Jepara tidak hanya bertumpu pada Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini, yang sampai saat ini belum jelas arah pengembangan untuk jangka panjang. Penyelesaian proyek Akuarium Kura-Kura Raksasa serta sejumlah wahana permainan air setidaknya telah menemui ujung klimaks, sehingga mengesankan kebosanan bagi pengunjung. Wisata adalah strategi memenuhi rasa senang dan tenang akan keunikan, kekhasan, dan keaslian.

Selama ini, bangunan Kura-kura raksasa selalu dipromosikan sebagai entry point pariwisata Jepara. Terlebih untuk setiap kegiatan daerah maupun luar daerah, bangunan kepala Kura-kura seolah dijadikan simbol baru bagi identitas Jepara dengan menyisipkannya di dalam pamflet, brosur, atau background kegiatan. Padahal langkah demikian bisa menjadi blunder bagi pariwisata bahari Jepara jika tidak diiringi roadmap pengembangan yang jelas akan inovasi-inovasi wisata itu sendiri.

Untuk itulah perlu dibuat terobosan baru promosi pariwisata yang gencar sekaligus kemampuan kerjasama antarinstansi pemerintahan di semua level untuk mendukung kampanye Visit Jepara. Perlu dibuatkan jalur khusus pariwisata terutama bagi wisatawan dari luar Jepara yang terhindar kemacetan sekaligus kemudahan akses transportasi. Kejutan-kejutan kegiatan pariwisata juga perlu diberikan disertai pembuatan souvenir khas semacam sesuatu yang bertuliskan ”Visit Jepara, Living Karimunjawa”.

Pengembangan pariwisata bahari atau marine ecotourism yang merujuk pada UU Nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, disebutkan adanya kegiatan pariwisata bahari yang meliputi permukaan air, kolam, sampai pada pengelolaan dasar laut.

Sebenarnya tuntutan pembangunan potensi kelautan dapat dikompromikan antara sektor produksi hulu sampai pada hilir, setidaknya terfokuskan pada kualitas pariwisata yang dibangun. Sebagai contoh, dapat dikembangkan adanya pariwisata yang mengedepankan integrasi hidup wisatawan dengan kehidupan asli penduduk setempat. Langkah ini pada akhirnya akan membentuk banyak objek wisata yang murah namun memberikan dampak keuntungan yang tinggi berupa kampung wisata (home stay).

Demikian juga dapat dibuat model industri ikan modern yang diharuskan untuk menjadi sentral produksi pengolahan hasil tangkapan nelayan tradisional, mulai dari sortir sampai pengemasan untuk ekspor. Guna menjaga stabilitas pasokan ikan di laut maka nelayan mesti diberdayakan dengan sistem budidaya, seperti udang, bandeng, dan rumput laut. Demikian juga pabrik es dan pabrik penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) yang layak minum mesti didahulukan daripada industri lain, karena menjadi kebutuhan inti bagi nelayan dalam mendukung produktivitasnya.

Termasuk gagasan wisata yang semakin digemari masyarakat wisatawan adalah pemberdayaan olahraga bahari yang telah menjadi program pemberdayaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sebagaimana sport fishing yang jelas-jelas telah dikampanyekan sebagai industri kreatif di bidang olahraga bahari. Dalam keterikatan aspek olahraga ini, sport fishing yang identik dengan memancing akan mampu mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan Karimunjawa secara khusus, karena terkait pada penyediaan perahu atau kapal sewaan sekaligus pemandu daerah pembiakan ikan, sehingga membuka lapangan kerja baru.

Dengan hal-hal tersebut, maka terdapat tiga potensi pembangunan bahari yang nantinya dapat dirancang secara berkesinambungan sekaligus dapat dipromosikan untuk mengenalkan Karimunjawa. Pertama, sumber daya dapat pulih (renewable resource) yang terkait flora dan fauna serta unsur pendukung sebagaimana potensi pulau-pulau yang beragam. Kedua, sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resource) yang terdiri atas unsur-unsur bahan mineral, seperti pasir putih. Ketiga, jasa lingkungan (environmental services) yang mengedepankan kreativitas pengelolaan sehingga tidak berhenti pada konsumsi “mentah” dari laut.

Saat ini, pariwisata menjadi salah satu elemen penting di Jepara. Dan Jepara mayoritas adalah kalangan nahdliyin. Lalu NU mau apa?

Tahun 2022, sudah seharusnya menjadi tonggak tahun kunjungan wisata Jepara ditetapkan. Kondisi pandemi covid-19 yang sudah menurun drastis dengan kesiapan masyarakat menghadapi tatanan baru tentu menjadi peluang. Keberadaan sejumlah pabrik di beberapa kawasan pengembangan industri misalnya, tentu membuka pangsa pasar wisata. Akan tetapi, ketidaksiapan di antara pemangku kebijakan seolah menjadikan potensi wisata yang begitu besar justru terkesan tidak berkembang.

Salah satu destinasi wisata di Jepara yang saat ini gencar dipromosikan adalah Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa sebagai basis penduduk muslim dan berafiliasi pada NU, perlu mendapatkan dukungan dari seluruh warga nahdliyin. Pengembangan dalam perspektif NU dapat dilakukan dengan mendeklarasikan sebagai pusat wisata halal di Jepara. Wisata sesungguhnya menjadi bagian dari kehidupan kaum muslim, terutama warga NU. Oleh karenanya, sudah sepatutnya juga tokoh-tokoh NU mensyiarkan wisata halal dan melakukan pengembangan di sejumlah daerah potensial sektor wisata.

Di sisi lain, Pemkab Jepara juga memberlakukan wisata gratis di sejumlah obyek wisata yang dikelola pemerintah daerah. Muncul anggapan progam ini diterapkan karena wisata di Jepara kurang bergerak. Pandemi covid-19 bahkan oleh sebagian kalangan dianggap sebagai “penolong”, karena dijadikan alasan turun drastisnya pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Pada 2021 kemarin misalnya, target pendapatan sekitar 4,1 milyar mesti direvisi hanya menjadi 998 juta.

Harus diakui bahwa ketika tagline wisata gratis diumumkan oleh pemimpin daerah, akan disangka bahwa pendapatan daerah dari aspek wisata berarti turun. Padahal arti wisata gratis adalah tidak adanya pembebanan ongkos atau retribusi langsung atas obyek wisatanya. Untuk menikmati pantai dan laut, maka masyarakat tidak harus dibebankan tiket masuk obyeknya. Pendapatan daerah dapat digantikan melalui beban parkir kendaraan dan infrastruktur pendukung lainnya. Pengembangan wisata sesungguhnya tidak hanya mengacu pada obyek wisata itu sendiri.

Perlu saling difahami bahwa strategi pengembangan wisata meliputi banyak hal. Bisa dilakukan mulai dari pengembangan produk wisata, pengembangan tata ruang dan daya dukung lingkungan, pengembangan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, termasuk pengembangan investasi. Dalam kaitan tersebut, mempromosikan kepulauan Karimunjawa layak menjadi pemikiran yang diintensifkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Sebagian besar masyarakat Jepara tentu menyadari bahwa destinasi wisata yang berhasil memberi setoran pemasukan besar pada PAD adalah dari sektor bahari. Obyek wisata Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini adalah ikon populer. Sayangnya, Pemkab Jepara seolah hanya terkonsentrasi pada pengembangan dua destinasi tersebut, sehingga tidak optimal menggerakkan serta berinovasi pada obyek wisata lain.

Karimunjawa sebagai ikon promosi wisata sekaligus basis pengembangan bahari Jepara, tentu akan mampu mengembangkan aspek pariwisata secara meluas. Wisata bahari di Jepara tidak hanya bertumpu pada Pantai Tirta Samudra Bandengan dan Pantai Kartini, yang sampai saat ini belum jelas arah pengembangan untuk jangka panjang. Penyelesaian proyek Akuarium Kura-Kura Raksasa serta sejumlah wahana permainan air setidaknya telah menemui ujung klimaks, sehingga mengesankan kebosanan bagi pengunjung. Wisata adalah strategi memenuhi rasa senang dan tenang akan keunikan, kekhasan, dan keaslian.

Selama ini, bangunan Kura-kura raksasa selalu dipromosikan sebagai entry point pariwisata Jepara. Terlebih untuk setiap kegiatan daerah maupun luar daerah, bangunan kepala Kura-kura seolah dijadikan simbol baru bagi identitas Jepara dengan menyisipkannya di dalam pamflet, brosur, atau background kegiatan. Padahal langkah demikian bisa menjadi blunder bagi pariwisata bahari Jepara jika tidak diiringi roadmap pengembangan yang jelas akan inovasi-inovasi wisata itu sendiri.

Untuk itulah perlu dibuat terobosan baru promosi pariwisata yang gencar sekaligus kemampuan kerjasama antarinstansi pemerintahan di semua level untuk mendukung kampanye Visit Jepara. Perlu dibuatkan jalur khusus pariwisata terutama bagi wisatawan dari luar Jepara yang terhindar kemacetan sekaligus kemudahan akses transportasi. Kejutan-kejutan kegiatan pariwisata juga perlu diberikan disertai pembuatan souvenir khas semacam sesuatu yang bertuliskan ”Visit Jepara, Living Karimunjawa”.

Pengembangan pariwisata bahari atau marine ecotourism yang merujuk pada UU Nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, disebutkan adanya kegiatan pariwisata bahari yang meliputi permukaan air, kolam, sampai pada pengelolaan dasar laut.

Sebenarnya tuntutan pembangunan potensi kelautan dapat dikompromikan antara sektor produksi hulu sampai pada hilir, setidaknya terfokuskan pada kualitas pariwisata yang dibangun. Sebagai contoh, dapat dikembangkan adanya pariwisata yang mengedepankan integrasi hidup wisatawan dengan kehidupan asli penduduk setempat. Langkah ini pada akhirnya akan membentuk banyak objek wisata yang murah namun memberikan dampak keuntungan yang tinggi berupa kampung wisata (home stay).

Demikian juga dapat dibuat model industri ikan modern yang diharuskan untuk menjadi sentral produksi pengolahan hasil tangkapan nelayan tradisional, mulai dari sortir sampai pengemasan untuk ekspor. Guna menjaga stabilitas pasokan ikan di laut maka nelayan mesti diberdayakan dengan sistem budidaya, seperti udang, bandeng, dan rumput laut. Demikian juga pabrik es dan pabrik penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) yang layak minum mesti didahulukan daripada industri lain, karena menjadi kebutuhan inti bagi nelayan dalam mendukung produktivitasnya.

Termasuk gagasan wisata yang semakin digemari masyarakat wisatawan adalah pemberdayaan olahraga bahari yang telah menjadi program pemberdayaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sebagaimana sport fishing yang jelas-jelas telah dikampanyekan sebagai industri kreatif di bidang olahraga bahari. Dalam keterikatan aspek olahraga ini, sport fishing yang identik dengan memancing akan mampu mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan Karimunjawa secara khusus, karena terkait pada penyediaan perahu atau kapal sewaan sekaligus pemandu daerah pembiakan ikan, sehingga membuka lapangan kerja baru.

Dengan hal-hal tersebut, maka terdapat tiga potensi pembangunan bahari yang nantinya dapat dirancang secara berkesinambungan sekaligus dapat dipromosikan untuk mengenalkan Karimunjawa. Pertama, sumber daya dapat pulih (renewable resource) yang terkait flora dan fauna serta unsur pendukung sebagaimana potensi pulau-pulau yang beragam. Kedua, sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resource) yang terdiri atas unsur-unsur bahan mineral, seperti pasir putih. Ketiga, jasa lingkungan (environmental services) yang mengedepankan kreativitas pengelolaan sehingga tidak berhenti pada konsumsi “mentah” dari laut.

Saat ini, pariwisata menjadi salah satu elemen penting di Jepara. Dan Jepara mayoritas adalah kalangan nahdliyin. Lalu NU mau apa?

*Kader Muda NU Nalumsari,
*Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidyatullah Jakarta,
*Widyaiswara Kementerian Hukum dan HAM

Artikel ini telah dibaca 127 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Genjot Kualitas Guru TPQ di Jepara, Ini Yang Dilakukan Yanbu’a 

5 September 2022 - 14:18 WIB

Ponpes Balekambang menjadi Tuan Rumah PD-PKPNU, Ratusan Kader NU Ikuti Pelatihan

2 September 2022 - 12:22 WIB

Apakah Poligami Efektif Tekan HIV/AIDS?

1 September 2022 - 06:29 WIB

Falakiyah NU Jepara Susun Master Almanak 2023, Ini Isinya

22 Agustus 2022 - 13:05 WIB

Wadahi Para Penghafal Alquran, Ini Sinergi Lazisnu dan JQH 

12 Agustus 2022 - 07:16 WIB

Sembilan Nilai Warisan Gus Dur, Apa Saja?  

9 Agustus 2022 - 01:37 WIB

Trending di Hujjah Aswaja
%d blogger menyukai ini: