Menu

Mode Gelap
R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya

Kabar · 19 Mar 2016 15:09 WIB ·

Ini Wasiat KH Muhsin Ali Kepada Keluarga


 Ini Wasiat KH Muhsin Ali Kepada Keluarga Perbesar

Kiai Muhsin dan Habib Syiekh
BUGEL – Mendiang KH Muhsin Ali meninggalkan pesan berharga bagi keluarganya. Walau ditujukan kepada keluarga, pesan itu sungguh bisa dijadikan tanda akhlaq dan karakter pribadi, yang, tentunya, bisa dibaca sebagai pesan untuk kaum muslimin lainnya.
Pesan tersebut ada dalam kata pengantar buku Silsilah Bani Ali-Muslimah (Ban Lima) binti Hj. Maryam, yang ditulis pada 28 Ramadhan 1434/ 4 Agustus 2013.
Dalam pesan tersebut, Kiai Muhsin mengucapkan syukur karena mampu melaksanakan puasa satu bulan penuh setelah terkena stroke pada bulan Ruwah (Sya’ban) 1433 H. Empat bulan kemudian, 15 Dzulhijjah 1433 H, stroke kembali menyerang.
Alhamdulillah saget waras berkat pitulungane Allah melalui Tabib Ali Ridho Keling ngantos sak meniko /Alhamdulillah bisa sehat berkat pertolongan Allah melalui Tabib Ali Ridho Keling sampai sekarang (red),” tulis Kiai Muhsin.
Bagi Kiai Muhsin, sakit itu tidak dimaksudkan untuk merusak, melainkan sebuah ujian. Makanya, keluarga Ban Lima diberikan pesan agar selalu sabar. Bahkan, kesabaran itu nantinya akan berbuah kemuliaan jika bisa disikapi dengan baik. Bakdal Imtihan, Izzul Mar’i au Yuhaan (Setelah ujian, orang bisa jadi mulai atau hina).
Sabar nampa musibah, sabar ngelakoni perintah, sabar nampa kenikmatan. Mboten kok sabar yen nampa kenikmatan sarasan/ Sabar menerima musibah, sabar menjalankan perintah, sabar menerima kenikmatan. Bukan hanya sabar ketika menerima kenikmatan saja (red),” pesan Kiai.
Wasiat Kiai Muhsin tersebut dilengkapi dengan ucapan Sulthanul Auliya Syeikh Abdul Qadir Jailani. Wa’lamuu Annal Baliyyata Lam Ta’til Mu’mina Lituhlikahu. Wainnama Atathu Litakhtabirahu (Ketahuilah, sesungguhnya musibah itu tidak untuk merusak orang beriman, tapi untuk ujian dia).
Di akhir, Kiai Muhsin menulis pesan khusus: “Kabeh keluarga Ban Lima kudu seneng silaturrahim, awet faedahe akeh banget. Setengah saking faedahe iyo iku manjangke umur, jembarke rizqi lan kadang kepethuk karo jodoh.”
Pesan Kiai Muhsin di atas tentu masih relevan untuk problem keumatan. Utamanya soal silaturrahim, yang, dalam beberapa kasus sering jadi solusi atas konflik-konflik kecil di sekitar. Betapa tabah Kiai Muhsin menghadapi ujian yang diberikan Allah. Karakter inilah yang barangkali membuat ribuan orang tetap dating hingga tujuh hari beliau pada Jumat malam (18 Maret 2016). Allah yarham. (abd)

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

21 April 2026 - 13:45 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

21 April 2026 - 13:37 WIB

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

Pembukaan Bahtsul Masail PWNU Jateng, Rais Syuriah: Agendakan Rutin

20 April 2026 - 15:02 WIB

Trending di Bahtsul Masail