Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Islam Nusantara · 10 Agu 2022 06:23 WIB ·

Mbah Majid Menganti : Gerbong Kereta Yang Ditunggu Dalam Pertempuran 10 November Di Surabaya


 Mbah Majid Menganti : Gerbong Kereta Yang Ditunggu Dalam Pertempuran 10 November Di Surabaya Perbesar

Oleh : Murtadho Hadi (Pengurus LTN NU Jepara)

nujepara.or.id – Moment Kemerdekaan adalah momentum mengenang Sosok Historis! Dan kali ini, kita mencoba mengenal lebih jauh Sosok Ulama yang juga pejuang dalam lasykar milisi Pro-Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau adalah KH. Abdul Majid Jepara (apalagi saat ini bertepatan dengan 12 Muharram adalah peringatan Haul beliau).

Tak banyak yang tahu memang, selain beliau adalah “Muassis” (pendiri masjid jami’ di kampung Menganti) tapi beliau adalah sejawat Mbah Hasyim Asy’ari ketika sama-sama nyantri di Makkah (berguru kepada para Masyayikh Jawa, diantaranya: Syaikh Nawawi Bin Umar Al-Jawi, Syaikh Mahfuzh At-Turmusy, Syaikh Abdul Karim Al-Bantani, Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Jawi, ..)

Masjid peninggalan Mbah Majid Menganti Jepara

Dan, meski tak tertulis di buku-buku sejarah, peran Mbah KH. Abdul Majid (Menganti-Jepara) layak untuk dikenang di sini. Setidaknya kita pun menjadi tahu juga, bahwa gaung “Resolusi Jihad” (yang difatwakan Hadhrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari) didengar kawan karibnya, sampai ke wilayah pesisir Utara pulau Jawa.

Meski anjuran wajib berperang dalam resolusi jihad itu semula adalah radius 94 km (masafah diperbolehkannya qoshor/menjama’ sholat) yaitu kawasan dan wilayah di seputar Surabaya: meliputi Jombang-Nganjuk-Kediri-Tulung Agung-Trenggalek-Blitar-Malang-Pasuruan-Gresik-Lamongan, .. dan wilayah dalam jalur lingkar Surabaya radius 94 km. Tapi demi mendengar Resolusi Jihad Kyai Majid pun ikut menanggul senjata. Dan nyatanya perang juga pecah di mana-mana termasuk juga di palagan Ambarawa.

Tidak tanggung-tanggung, Mbah Abdul Majid yang ketika itu sudah “syuyukh” (“sepuh” dan Mursyid Thoriqoh) dengan jalan yang ditegapkan berangkat dari Jepara bersama Hasanuddin (putranya) dan bahkan cucunya: Busyro yang masih belia ketika itu diajak ikut berperang di barisan lasykar pro-Kemerdekaan.

Seperti sudah janjian, Laskar Mbah Abdul Majid Jepara ini pun akhirnya bertemu dan berangkat satu gerbong bersama laskar Mbah Abbas (Buntet, Cirebon).

Halnya di Surabaya sendiri, pasca pecah pertempuran 3 hari berturut-turut (yaitu tangal 26-27-28 Oktober), dan ketika memasuki bulan November di seantero kota Surabaya, suasana tambah panas dan mencekam. Perang hampir pecah di awal November. Tapi Mbah Hasyim memberi isyarat supaya menunda pertempuran. Konon, banyak kyai-kyai yang berkisah, perang ditunda karena menunggu Lasykar milisi dari Jepara dan Cirebon: yang hizib-hizibnya terkenal bisa merontokkan pesawat-pesawat tempur Inggris.

Dan sayup-sayup, para sesepuh di kampung Menganti pun masih sering berkisah, Mbah Majid berangkat ke Surabaya berbekal dua karung (yang masing-masing berisi “garam” dan “kacang hijau”) : garam disebar menjadi rawa-rawa dan lautan, sedang kacang hijau disebar menjadi “mesiu” dan bom. Begitulah kisah orang-orang kampung dalam menshifati pertempuran Mbah Majid di Surabaya.

Sosok Kyai yang rumahnya (menurut kesaksian para tetangga) ditunggui dua harimau putih ini, berbulan-bulan membangun distrik pertahanan di Kampung Karah (sekitar 2 km) dari Jembatan Merah (Surabaya). Di sekitar distrik itu akhirnya beliau mendirikan masjid “Hasanuddin” (diberi nama dengan nama putra beliau) yang pada akhirnya menjadi satu-satunya bukti sejarah yang terlacak dari jejak Mbah Majid di Surabaya.

Tak berselang Mbah Majid pun pulang ke Jepara (kembali berdakwah dan mengajar). Tak lebih 10 tahun menikmati Indonesia Merdeka beliau pun wafat, di hari Ahad 12 Muharram, di tahun 1954 M. Dengan meninggalkan 3 istri (Nyai Belik, Nyai Ma’shum, Nyai Ginah, dan ratusan dzurriyah yang tersebar di beberapa kota di Jawa bahkan Sumatra). Allohummantsur nafahatir-ridhwani alaih, wa amiddana bil-asrorillati auda’taha ladaih! Amin

Artikel ini telah dibaca 454 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

14 Maret 2026 - 07:00 WIB

Iktikaf

Menjemput Cahaya di Penghujung Ramadan: Lelaku Spiritual Sepuluh Hari Terakhir (Maleman)

10 Maret 2026 - 07:39 WIB

Ilustrasi Lailatul Qodar
Trending di Hujjah Aswaja