Menu

Mode Gelap
KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian” Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa Fatayat Batealit Dorong UMKM Naik Kelas Guru: Antara Profesi dan Tuntunan 

Kabar · 6 Nov 2022 14:26 WIB ·

Sastra Hizib dan “Berhala” Para Penyair (2)


 Sastra Hizib dan “Berhala” Para Penyair (2) Perbesar

Oleh : Murtadho Hadi*

Sekali lagi ditegaskan: di luar sastra yang konvensional dan “baku” (kalau kita lebih jeli) masih banyak sisi-sisi yang belum terungkap (dari bentuk-bentuk karya sastra) yang seandainya diselidiki ternyata nuansa sastranya sangat kental.

Diketahui, lahirnya “Sastra Hizib”  atau “munajat-munajat” para Auliya itu, dalam banyak situasi hampir mirip dalam tradisi sastra lisan di mana “bahasa meluncur dengan derasnya” seolah “gagasan” dan “ide”  sudah terpatri jauh dalam ingatan sehingga “rima”, diksi, dan idium itu bagaikan buah yang sudah masak, tinggal memetik saat kapan dibutuhkan.

Dikisahkan, Syaikh Imam Syafi’i pernah dihina oleh seorang tukang cukur (sang pemilik salon), hanya karena bertampang seperti seorang faqir (usai menempuh perjalanan jauh, jubah kumal  berdebu, surban masih acak-acakkan sehabis mengusung kitab-kitab), di situlah Sang Imam ditolak mentah-mentah ketika hendak masuk ke sebuah salon.

Maka Sang Imam pun bergegas meninggalkan pemilik salon sembari mendendangkan sebuah syair, “Amthiri lu’lua Jibala Sarondib!” : Hujani aku dengan butiran-butiran permata sebesar gunung Sarondib. Banjiri aku dengan butiran-butiran emas jikalau napas masih melekat, rezeki tak pernah beranjak dariku jikalau aku mati, maka kuburan akan menantiku.

Sebagaimana syair dalam tradisi sastra lisan, Hizib itu pun lahir dalam spontanitas, bagai bahasa yang meluncur dalam kemurniannya.  Itulah yang membedakan antara Sastra Hizib dan “berhala” para penyair untuk konteks saat ini. Terkadang para penyair (sekarang) ketika menulis puisi di benaknya sudah terdesain “panggung” dan “setting” serta riuh tepuk tangan penonton.

Maka benar penyair-penyair  itu adalah seperti  yang disindir Al-Qur’an: “Wassyu’aroo’u yattabi’uhumul-ghowuun!” (Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu!)
. Selanjutnya dari para penyair seperti itu, kita sudah bisa membayangkan apa yang akan ditulis.

Sekedar apologi, toh itu bisa dikatakan sebagai sifat “kanak-kanak” para penyair? Berikut kita sedikit menziarahi “maqolah” dan nazhom-nazhom yang pernah didendangkan oleh Syaikh Imam Syafi’i (fuqoha yang sastrawan juga). Karena yang terpenting bukan “nuasa puitisnya” akan tetapi “gagasan” dan pemikirannya yang agak sedikit berbentuk prosa. Toh begitu dialihkan-bahasakan, bukankah “matra” atau “bahr” dari langgam-langgam tembangnya sudah hilang?

CENDEKIAWAN

Sesungguhnya yang disebut faqih adalah orang yang konsisten dalam tindakannya terhadap ilmu. Tak ada faqih karena kecanggihan narasi dan sekedar pandai berteorisasi.

Begitu juga yang paling penting dari pemimpin adalah suri tauladannya. Tidak disebut kepemimpinan jika hanya sekadar mengandalkan banyaknya kaum dan pengikut. Begitupun yang disebut kaya adalah kemurahannya. Tak bisa disebut kaya seseorang yang mengandalkan “jabatan” dan “harta benda”.

TOTALITAS

Jika hidupku sudah ditanggung pada hari ini, maka Ya Allah, bersihkahlah diriku dari segala hasrat dan keinginan hari nanti.
Janganlah terlintas untuk meraih sesuatu untuk esok hari. Sebab esok tentulah ada rezeki yang baru.
Segalanya kupasrahkan kepada-Mu, Ya Allah.Maka kulepaskan kehendakku demi irodah-Mu.

Si BEBAL

Suatu ketika, Si Bebal memberi “kuliah” kepadaku dengan segala kebebalannya.Sedang ia mesti tidak senang bilang bila pendapatnya diluruskan, aku tiada menggubrisnya.
Ia semakin bebal saja, dan aku bertambah bijak. Seperti halnya kayu Cendana, jika semakin hangus engkau membakarnya, semakin harum pula baunya.

MORALITAS

Àku terdampar di tengah sekawanan orang-orang dungu yang tak punya wawasan moralitas sama sekali. Mereka menilai kaki adalah kepala dan kepala adalah kaki. Hanya karena kesamaan bentuk seseorang digolongkan menjadi bangsa manusia. Tetapi akal, adab, kedirian tentulah beda satu sama lain.
Laksana kemilau emas yang membedakan dirinya dengan jenis logam lainnya. Dan lihatlah kayu Cendana itu, jika bukan karena baunya yang istimewa tentulah manusia tak bisa membedakannya dengan kayu bakar.

*Sastrawan, dan pengurus LTN NU Jepara)

Artikel ini telah dibaca 145 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

YPM NU Jepara Berhasil Borong Tropy dalam Ajang Festival Aswaja Tingkat Provinsi

5 Desember 2022 - 12:02 WIB

Peduli Cianjur, Pengurus Ranting NU Tahunan Galang Dana untuk Korban Gempa

4 Desember 2022 - 11:53 WIB

Rakernas Lesbumi NU Ke-V, Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi sebagai Strategi

3 Desember 2022 - 03:33 WIB

KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin

1 Desember 2022 - 04:27 WIB

Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta (baju putih) berbincang dengan salah seorang pasien yang berobat di RSI Sultan Hadlirin, Rabu (30/11/2022).

Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian”

30 November 2022 - 03:08 WIB

Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa

29 November 2022 - 00:16 WIB

Kota Pelabuhan Jepara tahun 1600-an (Sumber KITLV)
Trending di Islam Nusantara
%d blogger menyukai ini: