Menu

Mode Gelap
Kepala Kemenag Jepara hingga Turis dari Kenya Kagumi Stand Gelar Karya Siswa MTs Sadamiyyah, Ini Alasannya Peneliti dan Akademisi dari Singapura Kunjungi MA NU Al-mustaqim, Beri Pesan Ini untuk Santri dan Pelajar NU – Muhammadiyah Jepara Siap Kawal Pilkada Berkualitas, Ini 6 Komitmen dan Seruan untuk Para Stakeholder MATAN: Oase Pergerakan Tasawuf Milenial Genjot Kualitas SDM, YPMNU Gelar Pembekalan untuk Pengurus, Guru PAUD & TPQ Muslimat NU Kecamatan Jepara

Hujjah Aswaja · 14 Mei 2024 08:29 WIB ·

Utawi Syaikh Nawawi Bin Umar Al-Jawi : Tidaklah “Meng-itsbat” Nasab Haba’ib!


 Ilustrasi gambar Perbesar

Ilustrasi gambar

Oleh : Murtadho Hadi – Pengurus PCNU Jepara

nujepara.or.id – Di dalam ilmu “tarikh” (sejarah) dan “nasab” minimal ada dua kebenaran yang perlu kita ketahui ; pertama, “kebenaran informatif” dan kedua “kebenaran faktual”!

Di sinilah banyak “pembaca teks” (yang kurang jeli dan tidak mempunyai “nalar-kritis”) akhirnya salah paham : seolah-olah Syaikh Nawawi Bin Umar al-Bantani Al-jawi itu (yang ketika diminta sebagian murid-murid beliau untuk memberikan Syarah/”penjelas” dari kitab yang berisi “Etika Pergaulan dan Keintiman Pergaulan suami-istri” yakni: Uqudulujain itu, seolah-olah sudah mengitsbat nasab habaib.
Haihata! Keterangan yang “sepenggal itu” karena di dalam matan memang ada lafal “Habib” yaitu gelar dari Syaikh Abdullah Alawi Al-Haddad”, siapa saja yang menjadi pensyarah pastilah mau tidak mau akan memberikan “penjelas” dan “menginformasikan” makna dari pengakuan klan mereka itu.

Istilah “Minoritas”

Sehingga ketika Syaikh Nawawi memaparkan dengan redaksi: “Fashtilahu-ba’dhi-ahlil-bilad…” :Maka adapun sebagain istilah kaum minoritas dari sebagian wilayah:( khususnya kota Tarim) menyebut dzurriyah nabi jika laki-laki disebut “habib”, dan jika perempuan disebut “hubabah”.
Kata “ba’dhi” di atas adalah “sebagian” jadi sebagian “minoritas”. Lebih jauh kata Syaikh Nawawi, “Fal-aktsaru yuqolu lahu Sayyid wa-sayyidah” : Sedang menurut Pendapat ulama yang banyak (yang telah disepakati) dzurriyah nabi itu disebut “Sayyid” dan “Sayyidah”. Terus apakah ada yang bermasalah dari qoul Syaikh Nawawi di atas?

Kebenaran Faktual

Apakah dengan memaparkan “informasi” dari pengakuan mereka yang dibangun di abad-9 H itu, Syaikh Nawawi bisa dikatakan “mengitsbat nasab mereka”? Syaikh Nawawi sebagai pensyarah hanyalah memaparkan “kebenaran informatif” (yakni pengakuan mereka para habaib itu).

Sedang soal apakah itu sesuai dengan “kebenaran faktual” itu masihlah perlu diteliti dan diuji lebih lanjut. Sama seperti sikap-sikap kita selama ini. Dulu kita berhusnuzhon dan tidak mempermasalahkan pengakuan mereka itu, kalau di kemudian hari banyak “sesuatu yang janggal ihwal pengakuan kaum haba’ib ini, ihwal doktrin mereka, sepak terjang mereka, perlakuan mereka yang memperbudak kaum pribumi, rasisme (merasa sebagai ras termulia di muka bumi), dan doktrin-doktrin lain yang membahayakan keutuhan ideologi Pancasila dan NKR, maka kita pun berhak membuka manuskrip-manuskrip sejarah, kitab nasab, dan nyatanya mereka gagal membuktikan mereka sebagai dzurriyah nabi.

Tak Lazim Bergelar “Mujtahid Muthlaq”

Kakek-kakek mereka dalam urutan silsilahnya (seperti: Faqih Muqoddam, Shohib Mirbath, Alwi Bin Ubaidillah, Sampai Ubaidillah) yang disebut-sebut sebagai: ahli hadits (“Al-Muhaddits”), ‘Mujtahid Muthlaq”, bergelar “al-Imam”, “Al-quttub”, “Al-Mufti” dan gelar-gelar panjang yang seabreg itu : tercatat di kitab apa, ditulis oleh sejarawan siapa, katanya muhaddits (manakah haditsnya atau karyanya), katanya Mujtahid mutlak manakah “hasil ijtihadnya”, katanya Al-Mufti manakah fatwanya, .. semuanya adalah “sunyi” dan sepi tidak ada sejarawan yang menuturkanya, tak tercatat sama sekali di kitab sejarah dan kitab nasab, maka tidak berlebihan jika orang menganggapnya “kisah fiktif” dan cerita fiksi belaka. Tak lazim untuk sosok yang bergelar sebagai Al-Mufti dan Mujtahid Muthlaq!

Para Pakar Dan Ulama Dunia

Soal “itsbat nasab” adalah otoritas para ulama ahli nasab yang telah meneliti- “mentadwin” dan “mengferifikasi”nya? Kecuali jika Syaikh Nawawi mengatakan bahwa nasab para habaib ini Shohih dengan kriteria-kriteria dan hujjah-hujjah dan mengverifikasi (seperti kaidah “jarhu” wa-tta’dil) dengan poin-poin alasan satu-dua dan tiga maka jadilah qoul yang Mu’tamad untuk diikuti. Beliau saja mengatakan “ba’dhi” (dari kaum dan pandangan minoritas!)
Dan yang patut diperhatikan, bagaimana jikalau pensyarah itu hidup di abad sekarang dimana kebenaran-kebenaran faktual itu telah terungkap:; tentu bukan “hanya kebenaran informatif” dari pengakuan kaum haba’ib saja yang diungkap dan dijelaskan, tapi pensyarah kitab pastilah juga akan mempertimbangkan “kebenaran faktual” dan maqolah-maqolah ulama dunia ihwal “Buthlanu-nasabi-bani-alwi” (“Batalnya nasab Bani Alwi”): yakni maqolah para peneliti dan ahli nasab:

  1. Syaikh Atturbani (pakar nasab telah membatalkan nasab kaum habib),
  2. Syaikh Muqbil Hadi Al-wada’i (ulama pakar nasab dan ahli Hadits juga membatalkan nasab kaum habib),
  3. Umar Az-Zahid (pakar biologi/Pakar DNA telah meneliti dan tidak terbukti kaum habi. Ini sebagai dzurriyah nabi),4. Dr.Abdullah As-Syuaiby (pakar biologi/pakar DNA dari Yaman sendiri telah mengatakan: “Ba’alawi/habaib bukan keturunan nabi”)
    5.Dr. Yasin Al-Khalidary telah meneliti nasab habaib Bani Alwi yang ‘idhtirob” yaitu gonjang-ganjing berganti-ganti “kakek”: ba’alwi Indonesia mengaku keturunan Ahmad Bin Isa, sedang di Lebanon mengaku keturunan sayyid Musa Al-Kazhim.
  4. Syaikh Syarofuddin Syamsuddin (Mufti Yaman dan Pakar nasab): telah membatalkan nasab kaum habib yang tidak tersambung ke Rosululloh SAW.
  5. Kajian Kyai Imad, Kyai Ihya’ Surabaya, Gus Aziz Jazuly, Gus Abbas Buntet Cirebon (dan kyai-kyai muda lain yang mempunyai kajian teks yang kuat: yang telah sampai pada satu kesimpulan mustahilnya nasab habib ini tersambung ke Rosululloh SAW)
  6. Dr. Sugeng Sugiharto (pakar DNA dan anggota badan riset dan inovasi nasional/BRIN):; yang telah mengikuti gerak-gerik dan meneliti para ba’alwi yang telah tes DNA berkesimpulan: “mustahil para ba’alwi ini keturunan nabi, Arab saja bukan, tapi berhaplo-groub G: yakni Yahudi Bani Khazariya/Kaukasia.
  7. Dr. Manachem Ali (pakar Filologi: yang berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno dan uraian-uraian yang masuk akal kenapa bisa para habaib ini berhaplo group-G, kenapa tidak sama dengan 12 Yahudi dari putra keturunan Ya’kub atau Bani Ismail yang berhaplo group-J1, dan tema-tema lain)
    Wal-hashil, begitulah uraian sedikit ihwal “buthlanu nasabi Bani Alwi”, dan orang-orang awam pun rupanya sudah mulai pada menyimpulkan: ada yang berdasarkan memori kolektif sejarah bahwa para habaib ini dulu didatangkan oleh Belanda banyak yang menjadi kapiten-kapiten Arab yang menambaki para pribumi. Rupanya ada juga yang mulai bertanya: akhlaknya kasar dan dimana-mana memperbudak kaum pribumi begitu mustahil sebagai dzurriyah nabi. “Buah tidak.mungkin jatuh dari pohonnya”. Mosok dzurriyah nabi memalsukan “sejarah” dan makam dan kekelaman-kekelaman lain yang seabrek. Apa pun itu, dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara semua butuh penyikapan yang Arif dan cerdas!.*
Artikel ini telah dibaca 89 kali

Baca Lainnya

Pendidikan Karakter Anak Pada Saat Idulfitri

19 April 2024 - 08:40 WIB

Ilustrasi santri merayakan Idulfitri.

Filosofi Makna Budaya Kupat dan Lepet dalam Perayaan Idulfitri

9 April 2024 - 05:48 WIB

Rebutan kupat lepet saat pesta lomban

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (29)

9 April 2024 - 05:03 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

9 April 2024 - 04:54 WIB

Ruh manusia ilustrasi

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

8 April 2024 - 03:45 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (27)

7 April 2024 - 05:19 WIB

Mbah Soleh Darat
Trending di Hujjah Aswaja