Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Hujjah Aswaja · 15 Apr 2022 18:44 WIB ·

Tradisi “Jaburan” Ramadhan : Laku “Sakho” Masyarakat Indonesia


 Tradisi “Jaburan” Ramadhan : Laku “Sakho” Masyarakat Indonesia Perbesar

nujepara.or.id – Keunikan masyarakat Indonesia dalam memaknai dan mengisi bulan Ramadhan sangat lah kaya dan beraneka ragam, seperti halnya ada tradisi “Jaburan”.

Jaburan adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia pada setiap menjelang buka Ramadhan yaitu memberi “buko” berupa “tum-tuman nasi”, makanan kecil, gethuk, pisang goreng, bakwan, kolak pisang dan kolang kaling, dsb, Serta minuman-minuman kecil baik aqua, kopi, es teh yang di kirim ke Masjid dan Musholla.

Tradisi “jaburan” atau yang biasa di sebut “takjil” ini adalah bentuk altruisme, partisipasi dan interaksi sosial dalam mewujudkan kohesi, sense of belonging, persatuan, kesatuan, guyub, rukun, gotong royong dan rasa solidaritas yang tinggi, bahkan lebih dari itu yaitu menunjukkan masyarakat Indonesia bukan tipe masyarakat yang egois dan pelit melainkan masyarakat indonesia yang komunal dan dermawan atawa sakho.

Konteks tradisi “jaburan” masyarakat indonesia adalah “jabaran” secara cerdas dengan menggunakan pendekatan sosio-cultural teks dalil hadits yaitu:

“Man fatthoro fihi shoiman kana lahu maghfirotan lidzunubihi wa ‘itqo roqobatihi minan-nar.. wa kana lahu mitslu ajrihi min ghairi an yanqusho min ajrihi syaiun”

Teks dalil diatas, memberikan inspirasi yang tidak hanya bersifat individu melainkan bersifat budaya sehingga maknanya membentuk sebuah tradisi budaya yaitu Tradisi “Jaburan puasa” yang disajikan dan dinikmati oleh banyak orang baik di masjid maupun di mushallah..

Dari “tafsir sosio-budaya” teks teks dalil diatas, menyadarkan kepada kita tentang perlunya ide ide cerdas bagaimana teks teks dalil agama selalu tetap “hidup” dan relevan dengan situasi dan kondisi serta tantangan yang dihadapi terus menerus dari zaman ke zaman seperti halnya syair syairnya yang tetap namun selalu up date dengan perubahan gending atawa iramanya.

Ahinya, Tradisi Jaburan harus kita jadikan inspirasi baru bagaimana tetap dipertahankan namun disesuaikan dengan realitas dan tantangan yang dihadapi seperti yang sekarang baru ngetrend yaitu “ngebuburit”.

Semoga kita termasuk menjadi orang yang “memberi” jaburang bukan orang yang selalu “menikmati” jaburan… Aamiin.

Oleh : Kiai Hisyam Zamroni
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Artikel ini telah dibaca 310 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini
Trending di Budaya